Kamis, 06 Juni 2013

KELUARGA DAN PENYEBAB ANAK DENGAN GANGGUAN EMOSI DAN PERILAKU

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang           
Menurut Kauffman (Sunardi:1995) penyebab anak dengan ganggua emosi dan perilaku dapat diklasifikasi menjadi tiga kelompok besar, yaitu faktor keluarga, faktor biologis, dan faktor sekolah. Dalam bab ini penulis membahas anak dengan gangguan emosi dan peilaku dari faktor keluarga.
Keluarga adalah unit sosial terkecil yang memberikan dasar utama bagi perkembangan anak. Keluarga juga merupakan lembaga  pertama dan utama dalam melaksanakan proses sosialisasi dan pembentukan pribadi anak. Di tengah keluarga anak mengenal cinta dan kasih sayang, belajar mengenal bimbingan dan pendidikan, simpati dan loyalitas terhadap sesama anggota keluarga. Keluarga memberikan pengaruh besar dalam pembentukan watak dan kepribadian anak. Baik buruk struktur keluarga memberikan dampak bagi perkembangan jasmani maupun rohani anak.

B.     Tujuan
Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah :
1.      Untuk mengetahui penyebab anak dengan gangguan emosi dan perilaku
2.      Sebagai bahan referensi dan literalur bagi pembaca.
           
C.     Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah yang akan dibahas adalah :
1.      Apa faktor internal dan eksternal dalam keluarga yang bisa menyebakan anak dengan gangguan emosi dan perilaku?
2.      Bagaimana pola interaksi dalam keluarga anak dengan gangguan emosi dan perilaku?
3.      Apa saja jenis perilaku menyimpang yang disebabkan oleh faktor keluarga?
BAB II
PEMBAHASAN

A.    Keluarga dan penyebab anak dengan gangguan emosi dan perilaku
Keluarga adalah lingkungan pertama yang sangat penting bagi pekembangan psikologis anak. Keluarga dengan jumlah anak, urutan kelahiran yang berdekatan, pekerjaan orangtua, teknik pengendalian orangtua kepada anak, hubungan perkawinan, dominasi antara ayah atau ibu atau pembagian tugas dalam keluarga bisa menyebabkan anak dengan ganguan emosi dan perilaku. Menurut Triyanto Pristiwaluyo (2005:73), “tanpa disadari hubungan dalam keluarga yang sifatnya interaksional dan transaksional sering menjadi penyebab utama permasalahan emosi dan perilaku pada anak.” Pengaruh dari peraturan, disiplin, dan kepribadian yang dicontohkan atau ditanamkan dari orangtua sangat memengaruhi perkembangan emosi dan perilaku anak.
Menurut Kaufman (Sunardi, 1995) ada interaksional dan transaksional. Dimana orangtua mempengaruhi niat dan perilaku sosial positif anak, sehingga interaksi keluarga hanya dapat dipahami setelah adanya pengaruh antara anak dan orangtua.
Situasi keluarga yang memungkinkan timbulnya perilaku menyimpang pada anak diantaranya adalah:
a.  Disharmoni dalam keluarga dan rumah tangga berantakan
Rumah tangga yang berantakan disebabkan oleh kematian ibu atau bapak, perceraian diantara mereka, hidup terpisah, poligami, ketidak cocokan dan sering konflik, merupakan sumber munculnya penyimpangan tingkah laku pada anak. Akibatnya anak kurang peka dan menimbulkan perasaan hampa kasih sayang karena sejak kecil anak tidak pernah diperkenalkan dengan kasih sayang, kelembutan, kebaikan dan perhatian. Anak diabaikan dan tidak diperhatikan secara kejiwaan, sehingga kehidupan perasaannya tidak berkembang, bahkan mengalami proses penumpulan. 
Anak-anak yang kurang mendapat perhatian dan kasih sayang dari orang tua merasa dirinya kurang aman, merasa kehilangan tempat berlindung, akibatnya anak menjadi pendiam, menarik diri, merasa diri hampa atau sebaliknya menjadi agresif dan keras kepala menentang orang tua. Akhirnya sering keluar rumah, hidup bergelandangan, tidak mempunyai tujuan yang jelas, lalu terlibat dengan perbuatan kriminal dengan tujuan ingin menarik perhatian orang lain termasuk perhatian orang tuanya sendiri. Sikap lain yang ditunjukan anak terhadap ketidakpuasan bagi orang tuanya adalah dengan melawan atau memberontak sambil melakukan tindakan tindakan merusak. Konflik batin yang berkepanjangan serta frustasi yang terus menerus akan menimbulkan tindakan agresi, seperti melakukan serangan-serangan kemarahan terhadap dunia sekitar, mengganggu lingkungan, bolos sekolah, melawan guru, mencuri. Ataupun melakukan tindakan-tindakan sebaliknya seperti masa bodoh, diam, menarik diri dan tidak peduli dengan lingkungan, bahkan sama sekali tidak ingin berkomunikasi dengan orang tuanya sekalipun. Hal ini dilakukan sebagai pelampiasan rasa tidak puas dan pelepasan bagi ketegangan-ketegangan, kerisauan, sakit hati, frustasi dan dendam.
 Anak yang tidak dibiasakan dengan disiplin dan kontrol diri yang baik di rumah sesuai dengan norma-norma yang ada dalam kehidupan masyarakan maunpun norma-norma agama.

b.  Pola kriminal orang tua
Tingkah laku orang tua asusila dan kriminal akan memberikan dampak negatif terhjadap anggota keluarganya. Sebagai akibat dari kebiasaan itu, anak tidak terbiasa dengan norma-norma dalam pergaulan hidup yang umumnya berlaku. Kebiasaan orang tua berlaku curang dan munafik, sombong, sangat mudah ditiru. 

c.  Keadaan ekonomi keluarga
Hal ini mungkin terjadi karena orang tua terlalu sibuk dengan urusannya sehingga perhatian dan kasih sayang terabaikan.

d.  Sikap orang tua
Sikap menolak ini bisa disebabkan oleh perkawinan yang tidak bahagia, anak yang dilahirkan dalam kondisi rumah tangga yang rusuh dan tidak damai sehingga anak itu yang menjadi sasaran kesalahan orang tua. Akibatnya anak sering menerima perlakuan yang tidak baik dari kedua orang tuanya, diantaranya menolak keberadaan di dalam keluarga. Kehadiran anak yang tidak diharapkan di dalam keluarga karena rupa jelek, bodoh, cacat atau anak yang lahir sebelum pernikahan yang dianggap membawa aib bagi keluarganya.
Dampak perlakuan tersebut anak merasa tak bahagia dan sering menimbulkan konflik batin dan frustasi yang terus menerus dan tidak jarang bertingkah laku agresif. Timbul keinginan untuk membalas dendam atas perlakuan orang tua yang dirasakan anak sangat menyakitkan. Anak menjadi egoistis, tidak mau menurut dan suka bertengkar karena ingin menarik perhatian. Ia merasa dengan berkelakuan baikpun tidak mendapat perhatian dan kasih sayang, maka ia berusaha mencari jalan lain yang menjengkelkan serta mengganggu lingkungan.
Perlindungan yang berlebihan (everprotection) karena perkawinan yang sudah berlangsung lama dan baru memperoleh keturunan, kehadiran anak tunggal, anak satu-satunya dalam keluarga sehingga menjadi pusat perhatian seluruh keluarga, anak satu-satunya laki-laki atau perempuan diantara saudaranya, dan anak yang mempunyai kelainan.

B.     Pola interaksi dalam keluarga
Interaksi dalam keluarga yang diduga menjadi penyebab anak dengan gangguan emosi dan perilaku tidak kondusif bahkan bertentangan satu dengan lainnya. Penyebab pola hubungan keluarga memang kompleks, hal ini menunjukan bahwa pola interaksi pada keluarga dengan anak agresif ditandai degan konflik keluarga, sikap orangtua yang tidak konsisten, sikap saling tidak sejalan, dan sikap keras orangtua kepada anak.
Menurut Becher (Sunardi, 1995) mengemukakan dua dimensi teknik disiplin orangtua, yaitu restriktis vs persuasif dan hangat/ramah vs keras/tegang. Orangtua dengan pola asuh yang ramah, hangat dan restriktif mempunyai anak yang rapih, sopan, suka mengalah, terikat, sedikit agresif, ramah dan kreatif. Begitu pula orangtua yang menerapkan pola asuh yang ramah, hangat dan permifis cenderung mempunyai anak yang suka keluar, aktif, kreatif, mandiri, bersikap dewasa dan sedikit agresif. Orangtua dengan pola asuh yang keras/tegang dan ristriktif mempunyai anak yang suka menyendiri, neurotik, pemalu, suka bertengkar, agresif dan tidak bersikap dewasa, sedangkan orangtua dengan keras/tegang dan ristriktif mempunyai anak yang sangat agresif, tidak patuh dan nakal.
           
C.    Jenis perilaku yang meyimpang
Jenis gangguan emosi dan perilaku yang sangat erat kaitannya dengan keluarga adalah kenakalan remaja dan pengendalian diri. Hasil penelitian, menurut Sunardi (1995) menunjukan bahwa resiko munculnya gangguan tersebut dikarenakan keluarga yang berantakan, orangtua yang mempunyai riwayat kejahatan, polaasuh yang tidak disiplin dan keras, serta hukuman yang kejam diberikan oleh orangtua kepada anak.
Rendahnya prestasi anak juga bepengaruh oleh keluarga, seperti susahnya menyelesaikan pekerjaan rumah, interaksi dalam keluarga. Perilaku penyendiri dan cemas juga diduga faktor penyebab gangguan dari keluarga, dikarnakan pemalu, takut dan depresi, perilaku ini juga bisa disebabkan oleh neorologis.



BAB III
PENUTUP

Keluarga adalah lingkungan pertama yang sangat penting bagi pekembangan psikologis anak. Ada dua model yang saling melengkapi mengenai proses pengaruhnya keluarga dalam munculnya perilaku penyimpang, yaitu interaksional dan transaksional. Dimana orangtua mempengaruhi niat dan perilaku sosial anak, sehingga interaksi keluarga hanya dapat dipahami setelah adanya pengaruh antara anak dan orangtua.
Rumah tangga yang berantakan, sehingga anak kurang mendapatkan perhatian, kasih sayang dan tuntutan pendidikan orang tua karena bapak atau ibu masing-masing sibuk mengurusi permasalahannya serta konfik batin sendiri. Kebutuhan anak baik kebutuhan fisik maupun psikhis  tidak terpenuhi secara wajar. Anak-anak yang kurang mendapat perhatian dan kasih sayang dari orang tua merasa dirinya kurang aman, merasa kehilangan tempat berlindung, akibatnya anak menjadi pendiam, menarik diri, merasa diri hampa atau sebaliknya menjadi agresif dan keras kepala menentang orang tua. Akhirnya sering keluar rumah, hidup bergelandangan, tidak mempunyai tujuan yang jelas, lalu terlibat dengan perbuatan kriminal dengan tujuan ingin menarik perhatian orang lain termasuk perhatian orang tuanya sendiri.
Kebiasaan, sikap hidup, tradisi dan filsafat hidup  orang tua besar sekali pengaruhnya dalam pembentukan kepribadian anak dalam keluarga. Karena itu tingkah laku kriminal orang tua sangat mudah menular kepada anak-anaknya.








DAFTAR PUSTAKA


Sunardi. 1995. Ortopedagogik Anak Tunalaras 1, Surakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan


Tidak ada komentar:

Posting Komentar