BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Menurut Kauffman
(Sunardi:1995) penyebab anak dengan ganggua emosi dan perilaku dapat
diklasifikasi menjadi tiga kelompok besar, yaitu faktor keluarga, faktor
biologis, dan faktor sekolah. Dalam bab ini penulis membahas anak dengan gangguan
emosi dan peilaku dari faktor keluarga.
Keluarga adalah unit sosial terkecil yang memberikan
dasar utama bagi perkembangan anak. Keluarga juga merupakan lembaga pertama dan utama dalam melaksanakan proses
sosialisasi dan pembentukan pribadi anak. Di tengah keluarga anak mengenal
cinta dan kasih sayang, belajar mengenal bimbingan dan pendidikan, simpati dan
loyalitas terhadap sesama anggota keluarga. Keluarga memberikan pengaruh besar
dalam pembentukan watak dan kepribadian anak. Baik buruk struktur keluarga
memberikan dampak bagi perkembangan jasmani maupun rohani anak.
B. Tujuan
Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah :
1. Untuk
mengetahui penyebab anak dengan gangguan emosi dan perilaku
2. Sebagai
bahan referensi dan literalur bagi pembaca.
C. Rumusan
Masalah
Adapun rumusan masalah
yang akan dibahas adalah :
1.
Apa faktor internal dan eksternal dalam
keluarga yang bisa menyebakan anak dengan gangguan emosi dan perilaku?
2.
Bagaimana pola interaksi dalam keluarga
anak dengan gangguan emosi dan perilaku?
3.
Apa saja jenis perilaku menyimpang yang
disebabkan oleh faktor keluarga?
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Keluarga
dan penyebab anak dengan gangguan emosi dan perilaku
Keluarga adalah
lingkungan pertama yang sangat penting bagi pekembangan
psikologis anak. Keluarga dengan jumlah anak, urutan kelahiran yang berdekatan,
pekerjaan orangtua, teknik pengendalian orangtua kepada anak, hubungan
perkawinan, dominasi antara ayah atau ibu atau pembagian tugas dalam keluarga
bisa menyebabkan anak dengan ganguan emosi dan perilaku. Menurut Triyanto Pristiwaluyo (2005:73),
“tanpa disadari hubungan dalam keluarga yang sifatnya interaksional dan
transaksional sering menjadi penyebab utama permasalahan emosi dan perilaku
pada anak.” Pengaruh dari peraturan, disiplin, dan kepribadian yang dicontohkan
atau ditanamkan dari orangtua sangat memengaruhi perkembangan emosi dan
perilaku anak.
Menurut Kaufman
(Sunardi, 1995) ada interaksional dan transaksional. Dimana orangtua mempengaruhi niat dan perilaku sosial positif
anak, sehingga interaksi keluarga hanya dapat dipahami setelah adanya pengaruh
antara anak dan orangtua.
Situasi keluarga yang memungkinkan timbulnya perilaku
menyimpang pada anak diantaranya adalah:
a. Disharmoni dalam keluarga dan rumah tangga
berantakan
Rumah tangga yang berantakan disebabkan oleh kematian
ibu atau bapak, perceraian diantara mereka, hidup terpisah, poligami, ketidak
cocokan dan sering konflik, merupakan sumber munculnya penyimpangan tingkah
laku pada anak. Akibatnya anak kurang peka dan menimbulkan perasaan hampa kasih
sayang karena sejak kecil anak tidak pernah diperkenalkan dengan kasih sayang,
kelembutan, kebaikan dan perhatian. Anak diabaikan dan tidak diperhatikan
secara kejiwaan, sehingga kehidupan perasaannya tidak berkembang, bahkan
mengalami proses penumpulan.
Anak-anak yang kurang mendapat perhatian dan kasih
sayang dari orang tua merasa dirinya kurang aman, merasa kehilangan tempat
berlindung, akibatnya anak menjadi pendiam, menarik diri, merasa diri hampa
atau sebaliknya menjadi agresif dan keras kepala menentang orang tua. Akhirnya
sering keluar rumah, hidup bergelandangan, tidak mempunyai tujuan yang jelas,
lalu terlibat dengan perbuatan kriminal dengan tujuan ingin menarik perhatian
orang lain termasuk perhatian orang tuanya sendiri. Sikap lain yang ditunjukan
anak terhadap ketidakpuasan bagi orang tuanya adalah dengan melawan atau
memberontak sambil melakukan tindakan tindakan merusak. Konflik batin yang
berkepanjangan serta frustasi yang terus menerus akan menimbulkan tindakan
agresi, seperti melakukan serangan-serangan kemarahan terhadap dunia sekitar,
mengganggu lingkungan, bolos sekolah, melawan guru, mencuri. Ataupun melakukan
tindakan-tindakan sebaliknya seperti masa bodoh, diam, menarik diri dan tidak
peduli dengan lingkungan, bahkan sama sekali tidak ingin berkomunikasi dengan
orang tuanya sekalipun. Hal ini dilakukan sebagai pelampiasan rasa tidak puas
dan pelepasan bagi ketegangan-ketegangan, kerisauan, sakit hati, frustasi dan
dendam.
Anak yang tidak
dibiasakan dengan disiplin dan kontrol diri yang baik di rumah sesuai dengan
norma-norma yang ada dalam kehidupan masyarakan maunpun norma-norma agama.
b.
Pola kriminal orang tua
Tingkah laku orang tua asusila dan
kriminal akan memberikan
dampak negatif terhjadap anggota keluarganya. Sebagai
akibat dari kebiasaan itu, anak tidak terbiasa dengan norma-norma dalam
pergaulan hidup yang umumnya berlaku. Kebiasaan orang tua berlaku curang dan
munafik, sombong, sangat mudah ditiru.
c. Keadaan ekonomi keluarga
Hal ini mungkin terjadi karena
orang tua terlalu sibuk dengan urusannya sehingga perhatian dan kasih sayang
terabaikan.
d. Sikap orang tua
Sikap menolak ini bisa disebabkan
oleh perkawinan
yang tidak bahagia,
anak yang dilahirkan dalam kondisi rumah tangga
yang rusuh dan tidak damai sehingga anak itu yang menjadi sasaran kesalahan
orang tua. Akibatnya anak sering menerima perlakuan yang tidak baik dari kedua
orang tuanya, diantaranya menolak keberadaan di dalam keluarga. Kehadiran anak
yang tidak diharapkan di dalam keluarga karena rupa jelek, bodoh, cacat atau
anak yang lahir sebelum pernikahan yang dianggap membawa aib bagi keluarganya.
Dampak
perlakuan tersebut anak merasa tak bahagia dan sering menimbulkan konflik batin
dan frustasi yang terus menerus dan tidak jarang bertingkah laku agresif.
Timbul keinginan untuk membalas dendam atas perlakuan orang tua yang dirasakan
anak sangat menyakitkan. Anak menjadi egoistis, tidak mau menurut dan suka
bertengkar karena ingin menarik perhatian. Ia merasa dengan berkelakuan baikpun
tidak mendapat perhatian dan kasih sayang, maka ia berusaha mencari jalan lain
yang menjengkelkan serta mengganggu lingkungan.
Perlindungan
yang berlebihan (everprotection) karena perkawinan yang sudah berlangsung lama
dan baru memperoleh keturunan, kehadiran anak tunggal, anak satu-satunya dalam
keluarga sehingga menjadi pusat perhatian seluruh keluarga, anak satu-satunya
laki-laki atau perempuan diantara saudaranya, dan anak yang mempunyai kelainan.
B.
Pola
interaksi dalam keluarga
Interaksi dalam
keluarga yang diduga menjadi penyebab anak dengan gangguan emosi dan perilaku tidak
kondusif bahkan bertentangan satu dengan lainnya. Penyebab pola hubungan keluarga memang kompleks,
hal ini menunjukan bahwa pola interaksi pada keluarga dengan anak agresif
ditandai degan konflik keluarga, sikap orangtua yang tidak konsisten, sikap
saling tidak sejalan, dan sikap keras orangtua kepada anak.
Menurut Becher (Sunardi, 1995) mengemukakan dua dimensi
teknik disiplin orangtua, yaitu restriktis vs persuasif dan hangat/ramah vs
keras/tegang. Orangtua dengan pola asuh yang ramah, hangat dan restriktif
mempunyai anak yang rapih, sopan, suka mengalah, terikat, sedikit agresif,
ramah dan kreatif. Begitu pula orangtua yang menerapkan pola asuh yang ramah,
hangat dan permifis cenderung mempunyai anak yang suka keluar, aktif, kreatif,
mandiri, bersikap dewasa dan sedikit agresif. Orangtua dengan pola asuh yang
keras/tegang dan ristriktif mempunyai anak yang suka menyendiri, neurotik,
pemalu, suka bertengkar, agresif dan tidak bersikap dewasa, sedangkan orangtua
dengan keras/tegang dan ristriktif mempunyai anak yang sangat agresif, tidak
patuh dan nakal.
C.
Jenis perilaku yang meyimpang
Jenis
gangguan emosi dan perilaku yang sangat erat kaitannya dengan keluarga adalah
kenakalan remaja dan pengendalian diri. Hasil penelitian, menurut Sunardi
(1995) menunjukan bahwa resiko munculnya gangguan tersebut dikarenakan keluarga
yang berantakan, orangtua yang mempunyai riwayat kejahatan, polaasuh yang tidak
disiplin dan keras, serta hukuman yang kejam diberikan oleh orangtua kepada
anak.
Rendahnya
prestasi anak juga bepengaruh oleh keluarga, seperti susahnya menyelesaikan
pekerjaan rumah, interaksi dalam keluarga. Perilaku penyendiri dan cemas juga
diduga faktor penyebab gangguan dari keluarga, dikarnakan pemalu, takut dan
depresi, perilaku ini juga bisa disebabkan oleh neorologis.
BAB III
PENUTUP
Keluarga adalah
lingkungan pertama yang sangat penting bagi pekembangan
psikologis anak. Ada dua model yang saling melengkapi mengenai proses
pengaruhnya keluarga dalam munculnya perilaku penyimpang, yaitu interaksional
dan transaksional. Dimana orangtua
mempengaruhi niat dan perilaku sosial anak, sehingga interaksi keluarga hanya
dapat dipahami setelah adanya pengaruh antara anak dan orangtua.
Rumah
tangga yang berantakan, sehingga anak kurang mendapatkan perhatian, kasih
sayang dan tuntutan pendidikan orang tua karena bapak atau ibu masing-masing
sibuk mengurusi permasalahannya serta konfik batin sendiri. Kebutuhan anak baik
kebutuhan fisik maupun psikhis tidak
terpenuhi secara wajar. Anak-anak yang kurang mendapat perhatian dan kasih
sayang dari orang tua merasa dirinya kurang aman, merasa kehilangan tempat
berlindung, akibatnya anak menjadi pendiam, menarik diri, merasa diri hampa
atau sebaliknya menjadi agresif dan keras kepala menentang orang tua. Akhirnya
sering keluar rumah, hidup bergelandangan, tidak mempunyai tujuan yang jelas,
lalu terlibat dengan perbuatan kriminal dengan tujuan ingin menarik perhatian
orang lain termasuk perhatian orang tuanya sendiri.
Kebiasaan, sikap hidup, tradisi dan
filsafat hidup orang tua besar sekali
pengaruhnya dalam pembentukan kepribadian anak dalam keluarga. Karena itu
tingkah laku kriminal orang tua sangat mudah menular kepada anak-anaknya.
DAFTAR PUSTAKA
Sunardi. 1995. Ortopedagogik
Anak Tunalaras 1, Surakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar