A. PENGERTIAN
Teori belajar kognitif
merupakan suatu teori belajar yang lebih mementingkan proses belajar itu
sendiri. Belajar tidak hanya sekedar melibatkan hubungan antara stimulus dan
respon, lebih dari itu belajar melibatkan proses berpikir yang sangat kompleks.
Teori ini sangat berkaitan dengan teori sibemetik.
Menurut teori ini, ilmu pengetahuan dibangun dalam diri seorang individu melalui proses interaksi yang berkesinambungan dengan lingkungan. Proses ini tidak berjalan terpisah-pisah tetap mengalir, bersambung-sambung menyeluruh.
Menurut teori ini, ilmu pengetahuan dibangun dalam diri seorang individu melalui proses interaksi yang berkesinambungan dengan lingkungan. Proses ini tidak berjalan terpisah-pisah tetap mengalir, bersambung-sambung menyeluruh.
B.Para ahli yang banyak berkarya
dalam aliran ini antara lain; piaget,
ausubel, bruner.
a).
Piaget
Menurut Jean Piaget (1975) salah
seorang penganut aliran kognitif yang kuat, bahwa proses belajar
sebenarnya terdiri dari tiga tahapan, yakni 1). Asimilasi, 2). Akomodasi,
dan 3). Equilibrasi (penyeimbangan).
Proses asimilasi adalah proses penyatuan (pengintegrasian) informasi baru ke
struktur kognitif yang sudah ada dalam benak siswa. Akomodasi adalah
penyesuaian struktur kognitif ke dalam situasi yang baru. Equilibrasi adalah
penyesuain berkesinambungan antara asimilasi dan akomodasi.
b).
Ausubel
Ausubel percaya bahwa “advance organizer” dapat memberikan tiga
manfaat;
-
Dapat
menyediakan suatu kerangka konseptual untuk materi belajar yang akan dipelajari
oleh siswa.
-
Dapat
berfungsi sebagai jembatan antara apa yang sedang dipelajari siswa saat ini
dengan apa yang akan dipelajari siswa, sedemikian rupa sehingga;
- Mampu membantu siswa untuk memahami bahan
belajar secara lebih mudah.
c).
Bruner
Menurut pandangan Brunner (1964)
bahwa teori belajar itu bersifat deskriptif,
sedangkan teori pembelajaran itu bersifat preskriptif.
Misalnya, teori penjumlahan, sedangkan teori pembelajaran menguraikan bagaimana
cara mengajarkan penjumlahan.
C. Analisis dan
implementasi Teori Kognitif
Teori kognitif adalah teori yang
mangatakan bahwa belajar adalah suatu proses perubahan persepsi dan pemahaman,
yang tidak selalu berbentuk tingkah laku yang dapat diukur dan diamati.Dalam
teori ini lebih menekankan bagaimana proses atau upaya untuk mengoptimalkan kemampuan
aspek rasional yang dimiliki oleh orang lain. Teori pembelajaran ini adalah
sebuah teori pembelajaran yang cenderung melakukan praktek praktek yang
mengarah pada kualitas`intelektual peserta didik. Meskipun teori ini memiliki
berbagai kelemahan akantetapi, teori kognitif ini juga memiliki kelebihan yang
harus diperhatikan dalam kegiatan pembelajaran. Salah satu aspek positifnya
adalah keceerdasan peserta didik perlu dimulai dari adanya pembentukan
intelektual dan mengorganisasian alat-alat kognisi.
Sebagai seorang pendidik kita
harus menyadari bahwa pembelajaran adalah suatu kegiatan penyampaian informasi
kepada peserta didik, yang nantinya informasi tersebut diolah oleh alat-alat
kognisi yang dimiliki oleh pesrta didik. Oleh karena itu pelaksanaan pembelajaran
harus memberi ruang yang bebas dan luas kepada siswanya untuk mengembangkan
kualitas intelektualnya.Pada dasarnya proses pembelajaran adalah suatu system
artinya keberhasilan proses pembelajaran tidak hanya ditentukan oleh salah satu
faktor saja , tetapi lebih ditentukan secara simultan dan komprehensif dari
berbagai faktor yang ada. Dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran seorang guru
harus menciptakan pembelajaran yang natural, tidak perlu ada suatu rekaan atau
paksaan kepada siswanya.
Dalam kegiatan pembelajaran
pengembangan meteri harus benar-benar dilakukan secara kontekstual dan relevan
dengan realitas kehidupan peserta didik. Pelaksanaan kegiatan pembelajaran
tidak hanya bisa dilakukan di dalam ruangan saja tetapi juga bisa dilakukan
diluar ruangan dengan cara memanfaatkan alam sekita sebagai wahana tempat
pembelajaran. Metode yang dapat digunakan juga tidak harus selalu monoton,
metode yang bervariasi merupakan tuntutan mutlak dalam pembelajaran menurut
teori ini. Keterlibatan siswa secara aktif dalam kegiatan pembelajaran amat
dipentingkan karena henya dengan mengaktifkan siswa, maka proses asimilasi dan
akomodasi pengetahuan dan pengalaman dapat terjadi dengan baik. Selain itu,
seorang guru juga harus mampu memahami dan memperhatikan perbedaan individual
anak, arena hal ini merupakan faktor penentu keberhasilan dalam pembelajaran.
Edwin� L h i H�� 8�v /b>
Guthrie juga mengemukakan bahwa
“hukuman” memegang peran penting dalam belajar. Menurutnya suatu hukuman yang
diberikan pada saat yang tepat, akan mampu mengubah kebiasaan seseorang.
Sebagai contoh, seorang anak perempuan yang setiap kali pulang sekolah, selalu
mencampakkan baju dan topinya di lantai. Kemudian ibunya menyuruh agar baju dan
topi dipakai kembali oleh anaknya, lalu kembali keluar, dan masuk rumah kembali
sambil menggantungkan topi dan bajunya di tempat gantungan. Setelah beberapa
kali melakukan hal itu, respons menggantung topi dan baju menjadi terisolasi
dengan stimulus memasuki rumah. Meskipun demikian, nantinya faktor hukuman ini
tidak lagi dominan dalam teori-teori tingkah laku. Terutama Skinner makin
mempopulerkan ide tentang “penguatan” (reinforcement).
e).
Skinner
Dari semua pendukung teori
tingkah laku, mungkn teori Skinner lah yang paling besar pengaruhnya terhadap
perkembangan teori belajar. Beberapa program pembelajaran seperti Teaching machine, Mathetics, atau
program-program lain yang memakai konsep stimulus, respons, dan factor penguat
(reinforcement), adalah contoh-contoh
program yang memanfaatkan teori skinner.
Prinsip belajar Skinner adalah :
1.
Hasil belajar harus segera diberitahukan pada siswa jika salah
dibetulkan, jika benar diberi penguat.
2.
Proses belajar harus mengikuti irama dari yang belajar. Materi
pelajaran digunakan sebagai sistem modul.
3.
Dalam proses pembelajaran lebih dipentingkan aktivitas sendiri,
tidak digunakan hukuman. Untuk itu lingkungan perlu diubah untuk menghindari
hukuman.
4.
Tingkah laku yang diinginkan pendidik diberi hadiah dan sebaiknya
hadiah diberikan dengan digunakannya jadwal variable
ratio reinforcer.
5.
Dalam pembelajaran digunakan
shapping
C.
Analisis dan Implementasi teori Behavioristik
Teori ini secara umum melihat
sosok atau kualitas manusia dari aspek kinerja atau perilaku yang dapat dilihat
secara empirik. Inti dari teori behavioristik terletak pada upaya memahami
perilaku secara total . dalam teori ini seseorang dianggap telah belajar jika
ia dapat menunjukkan perubahan perilakunya.Teori behavioristik adalah satu
teori yang memiliki kontribusi cukup signifikan dalam pembelajaran. Teori ini
juga merupakan teori yang selama ini dipakai oleh banyak guru-guru di Negara
kita.Hingga kini teori ini masih merajai praktek pembelajaran yang ada di
Indonesia. Pembentukan perilaku dengan cara drill(pembiasaan) disertai dengan reinforcement
(hukuman) masih sering dilakukan dalam kegiatan pembelajaran kita.
Suatu
pembelajaran dikatakan berhasil menurut teori ini ditentukan oleh adanya
interaksi antara stimulus dan respon yang diterima oleh siswa. Indikasi
keberhasilan menurut teori ini adalah adanya perubahan tingkah laku yang nyata
dalam kehidupan peserta didik. Perubahan tidak dilihat dari perspektif
intelektualnya tetapi lebih pada tingkah laku dalam kehidupan sosialnya. Dalam
kegiatan pembelajaran dirancang dan dilaksanakan berpijak pada teori
behavioristik memandang pengetahuan adalah obyektif, pasti, tetap, dan tidak
berubah. Pengetahuan menurut teori ini telah terstruktur dengan rapi sehingga
belajar adalah perolehan pengetahuan sedangkan mengajar adalah memindahkan
pengetahuan ke orang yang telah belajar atau siswa.
Dalam
kegiatan pembelajaran menurut teori ini seorang siswa diharapkan harus memiliki
pemahaman yang sama terhadap pengetahuan yang diajarkan. Serta dalam proses
belajar dan pembelajarannya cukupterlihat bahwa yang cenderung memiliki
keaktifan adalah gurunya. Seorang murid dalam kegiatan belajar mengajar
cenderung bersifat pasif dan harus mematuhi dan mempercayai bahwa segala
sesuatu yang dikatakan dan disampaikan guru adalah suatu kebenaran yang tidak
bisa diganggu gugat.
Teori
behavioristik juga cenderung mengarahkan pebelajar untuk berfikir linier,
konvergen, tidak kreatif dan tidak produktif. Pandangan teori ini bahwa belajar
merupakan proses pembentukan atau shaping, yaitu membawa pebelajar menuju atau
mencapai target tertentu, sehingga menjadikan peserta didik tidak bebas
berkreasi dan berimajinasi. Padahal banyak faktor yang mempengaruhi proses
belajar, proses belajar tidak sekedar pembentukan atau shaping. Oleh
karena itu, implikasi dari teori behavioristik dalam proses pembelajaran
dirasakan kurang memberikan ruang gerak yang bebas bagi pebelajar untuk
berkreasi, bereksperimentasi dan mengembangkan kemampuannya sendiri. Karena
sistem pembelajaran tersebut bersifat otomatis-mekanis dalam menghubungkan
stimulus dan respon sehingga terkesan seperti kinerja mesin atau robot.
Akibatnya pebelajar kurang mampu untuk berkembang sesuai dengan potensi yang
ada pada diri mereka.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar