A. PENGERTIAN
Menurut teori
konstruktivisme, belajar adalah suatu proses mengasimilasikan dan mengkaitkan
pengalaman atau pelajaran yang dipelajari dengan pengertian yang sudah
dimilikinya, sehingga pengetahuannya dapat dikembangkan. Dapat dikatakan, bahwa
makna belajar menurut konstruktivisme adalah aktivitas yang aktif, dimana
peserta didik membina sendiri pengetahuannya, mencari arti dari apa yang mereka
pelajari dan merupakan proses menyelesaikan konsep dan idea-idea baru dengan
kerangka berfikir yang telah ada dan dimilikinya.
B.
Tokoh teori belajar konstruktivisme antara lain: Piaget dan Vygotsky.
a)
Piaget
Piaget menegaskan bahwa penekanan
teori kontruktivisme pada proses untuk menemukan teori atau pengetahuan yang
dibangun dari realitas lapangan. Peran guru dalam pembelajaran menurut teori
kontruktivisme adalah sebagai fasilitator atau moderator. Pandangan tentang
anak dari kalangan konstruktivistik yang lebih mutakhir yang dikembangkan dari
teori belajar kognitif Piaget menyatakan bahwa ilmu pengetahuan dibangun dalam
pikiran seorang anak dengan kegiatan asimilasi dan akomodasi sesuai
dengan skemata yang dimilikinya.
Proses
mengkonstruksi, sebagaimana dijelaskan Jean Piaget adalah sebagai berikut:
1) Skemata
Sekumpulan konsep
yang digunakan ketika berinteraksi dengan lingkungan disebut dengan
skemata. Skema terbentuk karena pengalaman. Proses penyempurnaan sekema
dilakukan melalui proses asimilasi dan akomodasi.
2) Asimilasi
Asimilasi adalah
proses kognitif dimana seseorang mengintegrasikan persepsi, konsep ataupun
pengalaman baru ke dalam skema atau pola yang sudah ada dalam pikirannya.
3) Akomodasi
Dalam menghadapi
rangsangan atau pengalaman baru seseorang tidak dapat mengasimilasikan
pengalaman yang baru dengan skemata yang telah dipunyai. Pengalaman yang baru
itu bisa jadi sama sekali tidak cocok dengan skema yang telah ada. Dalam
keadaan demikian orang akan mengadakan akomodasi. Akomodasi tejadi untuk
membentuk skema baru yang cocok dengan rangsangan yang baru atau memodifikasi
skema yang telah ada sehingga cocok dengan rangsangan itu.
4) Keseimbangan
Ekuilibrasi adalah keseimbangan antara asimilasi dan
akomodasi sedangkan diskuilibrasi adalah keadaan dimana tidak seimbangnya
antara proses asimilasi dan akomodasi, ekuilibrasi dapat membuat seseorang
menyatukan pengalaman luar dengan struktur dalamnya.
b) Vygotsky
Ada dua implikasi
utama teori Vygotsky dalam pendidikan, yaitu:
Dikehendakinya
setting kelas berbentuk pembelajaran kooperatif antar
kelompok-kelompok siswa dengan kemampuan yang berbeda, sehingga siswa dapat
berinteraksi dalam mengerjakan tugas-tugas yang sulit dan saling memunculkan
strategi-strategi pemecahan masalah yang efektif di dalam daerah pengembangan
terdekat/proksimal masing-masing.
Pendekatan
Vygotsky dalam pembelajaran menekankan perancahan (scaffolding).
Dengan scaffolding, semakin lama siswa semakin dapat mengambil
tanggungjawab untuk pembelajarannya sendiri.
1.
Pengelolaan pembelajaran
Interaksi sosial individu dengan lingkungannya
sengat mempengaruhi perkembangan belajar seseorang, sehingga perkembangan
sifat-sifat dan jenis manusia akan dipengaruhi oleh kedua unsur tersebut.
Menurut Vygotsky dalam Slavin (2000), peserta didik melaksanakan aktivitas
belajar melalui interaksi dengan orang dewasa dan teman sejawat yang mempunyai
kemampuan lebih. Interaksi sosial ini memacu terbentuknya ide baru dan
memperkaya perkembangan intelektual peserta didik.
2.
Pemberian bimbingan
Vygotsky berpendapat
bahwa pada saat peserta didik melaksanakan aktivitas di dalam daerah
perkembangan terdekat mereka, tugas yang tidak dapat diselesaikan sendiri akan
dapat mereka selesaikan dengan bimbingan atau bantuan orang lain.
C.
Analisis dan implementasi teori Konstruktivisme
Pengertian belajar menurut teori
ini adalah proses untuk membangun pengetahuan melalui pengalaman nyata dari
lapangan. Artinya siswa akan cepat memiliki pengetahuan jika pengetahuan itu
dibangun atas dasar realitas yang ada di lapangan. Teori ini membawa implikasi
dalam pembelajaran yang bersifat kolektif dan kelompok.
Menurut
pandangan ini, dalam proses pembelajaran siswa harus aktif melakukan kegiatan,
aktif berfikir, menyusun konsep dan member makna tentang hal-hal yang sedang
dipelajari. Dalam konteks ini siswa dianggap sebagai seorang pribadi yang
memiliki kebebasan untuk membangun idea atau gagasan tanpa harus diinterverensi
oleh siapapu, siswa diposisikan sebagai manusia yang dewasa yang sudah memiliki
modal awal pengetahuan untuk menerjemahkan pengetahuan yang akan dipelajarinya.
Guru dalam konteks ini berperan sebagai pemberdaya seluruh potensi yang
dimiliki siswa agar siswa mampu melaksanakan proses pembelajaran.
Untuk dapat melaksanakan
pembelajaran menurut teori ini, seorang guru harus memiliki daya kreasi yang
tinggi untuk bisa mendesain suasana pembelajaran yang kondusif, suasana
pembelajaran yang mampu memberikan kebebasan kepada siswanya untuk
mengekspresikan dirinya sesuai dengan kemauannya. Serta, semua kegiatan
pembelajaran harus banyak dikaitkan dengan realitas kehidupan masyarakat.
Kegiatan pembelajaran cenderung menggunakan model pembelajaran kooperatif
(kerjasama). Pelaksanaan evaluasi menurut teori ini tidak hanya dimaksudkan
untuk mengetahui kualitas siswa dalam dalam memahami materi dari guru. Evaluasi
menjadi sarana untuk mengetahui kekurangan dan kelebihan proses pembelajaran.
ru � n d Hߍ H�� a memanfaatkan alam sekita sebagai wahana tempat
pembelajaran. Metode yang dapat digunakan juga tidak harus selalu monoton,
metode yang bervariasi merupakan tuntutan mutlak dalam pembelajaran menurut
teori ini. Keterlibatan siswa secara aktif dalam kegiatan pembelajaran amat
dipentingkan karena henya dengan mengaktifkan siswa, maka proses asimilasi dan
akomodasi pengetahuan dan pengalaman dapat terjadi dengan baik. Selain itu,
seorang guru juga harus mampu memahami dan memperhatikan perbedaan individual
anak, arena hal ini merupakan faktor penentu keberhasilan dalam pembelajaran.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar